NADIKABAR.COM — Krisis air bersih akibat musim kemarau 2026 di Kabupaten Ciamis dilaporkan lebih ekstrem dibandingkan kondisi tahun 2023. Indikasi ini terlihat dari meluasnya dampak kekeringan hingga ke wilayah-wilayah yang sebelumnya memiliki cadangan air stabil.
Kepala Pelaksana BPBD Ciamis, Ani Supiani, mengungkapkan bahwa intensitas laporan kekeringan tahun ini meningkat signifikan. Sebaran wilayah terdampak pun kini merambah ke sejumlah kecamatan baru.
"Kalau dibandingkan dengan kemarau terparah 2023, kondisi sekarang sepertinya dilihat dari pendistribusian dan laporan kekeringan lebih banyak. Lebih banyak," kata Ani, Senin (7/9/2026).
Fenomena yang paling menonjol adalah munculnya laporan kekeringan dari Kecamatan Panjalu, tepatnya di Desa Sandingtaman. Hal ini menjadi perhatian serius lantaran Panjalu berada di kawasan kaki gunung yang memiliki Situ Lengkong serta sumber air melimpah.
"Lebih parah sekarang. Dan menyebar dari beberapa kecamatan," ujarnya.
Ani menegaskan bahwa krisis air di Panjalu merupakan kejadian perdana yang ditangani BPBD Ciamis.
"Contohnya Kecamatan Panjalu. Beberapa tahun lalu tidak pernah ada laporan, dan sekarang ada laporan masuk. Panjalu yang memiliki situ, memiliki banyak sumber air, tapi sekarang ada laporan kekeringan di Sandingtaman. Baru kali ini kekeringan. Laporannya dari Panjalu," ungkapnya.
Berdasarkan rekapitulasi data BPBD Ciamis hingga Minggu (6/9/2026), kekeringan telah melanda 19 kecamatan yang mencakup 34 desa dan 77 dusun. Sedikitnya 8.646 kepala keluarga (KK) kini kesulitan mengakses air bersih. Angka ini diprediksi masih akan bertambah karena pendistribusian dan pendataan di lapangan terus berjalan.