NADIKABAR.COM — Efek antrean bahan bakar minyak (BBM) di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), mulai dirasakan pelaku usaha. Omzet mereka turun drastis hingga 50 persen sejak antrean mulai mengular hingga belakangan kian parah.
Kondisi itu salah satunya dirasakan pemilik rumah makan di Makassar, Tiara Purnama. Dia mengaku langsung sepi orderan karena banyak pelanggannya yang ikut mengantre BBM maupun LPG 3 Kg.
"Selama ini omzet yang kita dapat per hari itu lumayan alhamdulillah, tapi sekarang ini berkurang. Karena mungkin bensin sulit, langka, orang terbatas, kemudian otomatis dagangan yang kita mau jual, gas langka," kata Tiara kepada NadiKabar, Sabtu (12/9/2026).
Dia menuturkan, biasanya omzet rumah makannya sudah bisa mencapai Rp 3 juta dalam setengah hari sejak pukul 09.00 hingga 14.00. Namun, beberapa hari terakhir terjadi penurunan drastis yang mencapai 50 persen lebih.
"Biasanya kita kalau normal dari pagi sampai jam 2 siang itu alhamdulillah dapat Rp 3 juta. Sekarang semenjak 5 hari kemarin itu kita hanya dapat Rp 1 jutaan," katanya.
Di sisi lain, Tiara juga enggan menyesuaikan harga menu makanan lebih tinggi. Menurutnya, kondisi tersebut hanya dapat disiasati dengan mengurangi porsi makanan sambil menunggu situasi kondusif lagi.
"Harganya tetap normal kami kasi, kita tidak mungkin kasi naik tapi tetap kita sendiri yang jadi kendala, jadi disiasati saja," jelasnya.