Menurut pakar klimatologi dan Profesor Riset di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Dr Erma Yulihastin, dengan ketinggian kolom abu mencapai 13 km, maka letusan telah menembus lapisan tropopause. Ini merupakan lapisan batas yang terletak di tim redaksi troposfer dan stratosfer.

Letusan yang menembus tropopause tergolong berbahaya. Pasalnya, ada sirkulasi Hadley atau pola pergerakan udara global di wilayah tropis yang memungkinkan asap bisa menyebar ke negara-negara subtropis.

"Semburan kolom hingga tropopause itu bahaya sebab ada sirkulasi Hadley yang memungkinkan apa yang disemburkan di wilayah khatulistiwa bisa ditransfer ke negara-negara subtropis," katanya.

Sejauh ini, BMKG telah melaporkan bahwa sebaran abu yang bergerak ke arah timur laut hingga selatan telah mencapai DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya. Kemudian, sebaran abu yang bergerak ke arah barat daya hingga barat laut telah sampai ke Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, dan Samudra Hindia.

Selain abu vulkanik, BMKG mencatat adanya gangguan geomagnetik dan petir vulkanik. Terutama dalam 12 jam terakhir pada Minggu (6/9).

"BMKG merekam adanya fenomena sekunder berupa gangguan geomagnetik dan petir vulkanik. Sensor di Lampung Selatan dan Serang mencatat adanya gangguan geomagnetik yang selaras dengan kenaikan sambaran petir vulkanik pada rentang waktu 12 jam terakhir. Namun, intensitas gangguan tersebut tidak sebesar letusan awal," papar Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan.