Dirinya memberikan contoh, jika satu unit mobil pemadam berkapasitas 5.000 liter dikerahkan dengan jumlah total 50 armada, maka pasokan air yang dibawa mencapai 250.000 liter atau setara 250 meter kubik belum termasuk frekuensi pengisian ulang di tengah operasi pemadaman.

"Angka tersebut merupakan ilustrasi berdasarkan kapasitas kendaraan, bukan angka pemakaian aktual. Yang ingin kami sampaikan adalah bahwa kebutuhan air untuk pemadaman juga cukup besar dan perlu dikelola bersama agar dampaknya terhadap pelanggan dapat dimitigasi," terangnya.

Meski berpotensi mengganggu stabilitas tekanan air dan kontinuitas aliran bagi pelanggan di sekitar titik pengambilan air atau hydrant, Bayu memastikan pihaknya sama sekali tidak mempermasalahkan penggunaan air darurat tersebut. Bayu menegaskan bahwa keselamatan warga dan pemadaman titik api tetap menjadi komitmen prioritas utama.

"Tidak ada persoalan siapa yang salah. Dari kejadian ini kita bisa melihat bahwa satu peristiwa dapat memberikan dampak berantai terhadap berbagai layanan publik," ucap Bayu.

Bayu menekankan bahwa Perumda Air Minum Toya Wening menilai pentingnya koordinasi lintas instansi yang lebih solid ke depan, khususnya dalam mitigasi titik-titik pasokan air darurat dan manajemen hydrant saat krisis.

"Kebakaran bukan hanya soal api. Ada air yang digunakan, ada jaringan yang terdampak, ada pelanggan yang mungkin mengalami gangguan, dan di sisi sanitasi ada pelayanan IPLT yang juga harus berhenti sementara. Ini menjadi pembelajaran bahwa seluruh layanan publik saling berkaitan," pungkasnya.

Diketahui, kobaran api masih menyala di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo blok B dan D sejak kemarin malam hingga hari ini. Pantauan NadiKabar pukul 09.30 WIB, Kamis (3/9/2026), api terlihat menyala di bagian atas gunungan sampah di blok D.