"Dalam skenario terburuk, bendungan akan terkikis membentuk saluran. Hal itu dapat menyebabkan seluruh material runtuh dan danau terkuras dengan sangat cepat," kata Robinson.
Situasi semakin kompleks karena China dan Nepal menemukan lebih dari satu danau yang terbentuk setelah banjir dan longsoran di kawasan Himalaya.
Nepal sebelumnya memperingatkan munculnya danau baru akibat material longsoran yang membendung sungai di sekitar lokasi bencana.
China juga memanfaatkan teknologi penginderaan jauh untuk mencari kemungkinan terbentuknya danau bendungan alami lain di kawasan tersebut.
Dengan kondisi itu, ancaman bencana tidak berhenti setelah banjir bandang melanda. Longsoran besar dapat mengubah aliran sungai, membentuk danau baru, lalu menciptakan potensi banjir susulan di wilayah hilir.
Bagi ilmuwan, kondisi tersebut membuat pemantauan gletser, lereng gunung, sungai, dan danau bendungan alami perlu berjalan secara bersamaan.
Medan Himalaya yang ekstrem dan sulit dijangkau membuat survei udara, citra satelit, pemodelan tiga dimensi, serta pemantauan cuaca menjadi instrumen penting untuk memantau perubahan kondisi dan memperkirakan risiko bencana.
Baca berita selengkapnya di NadiKabar.