β€œYang menarik dari data ini adalah pertumbuhan muncul dengan karakter wilayah yang berbeda. Ada kota penyangga metropolitan, pusat kegiatan regional, kawasan pendidikan, kota industri, sampai destinasi perjalanan masyarakat. Kereta api digunakan untuk kebutuhan yang semakin beragam,” ujar Anne.

Pola serupa terlihat pada sejumlah stasiun lainnya. Semarang Tawang mencatat 3.329.748 aktivitas, tumbuh 16,68 persen. Cilacap meningkat 17,51 persen menjadi 358.605 aktivitas, sedangkan Baturaja di Sumatra Selatan tumbuh 16,57 persen menjadi 293.252 aktivitas.

Di Sumatra, aktivitas Stasiun Tanjungkarang mencapai 562.993 atau naik 13,99 persen, Kertapati mencapai 862.450 atau tumbuh 13,78 persen, dan Padang mencapai 921.282 aktivitas atau naik 13,74 persen.

Pertumbuhan juga terlihat pada stasiun dengan volume pelanggan lebih besar. Purwokerto mencatat 2.770.189 aktivitas, naik 12,41 persen, sementara Surabaya Pasarturi mencapai 2.789.112 aktivitas atau tumbuh 12,32 persen.

Anne menjelaskan bahwa aktivitas stasiun dihitung dari akumulasi pelanggan yang naik dan turun. Dengan demikian, data tersebut menggambarkan seberapa intens sebuah stasiun digunakan sebagai titik awal maupun tujuan perjalanan masyarakat.

β€œSetiap stasiun punya cerita pergerakan yang berbeda. Purwokerto dan Surabaya Pasarturi memiliki volume besar, sementara Bogor Paledang dan Purwakarta memperlihatkan laju pertumbuhan yang tinggi. Data seperti ini membantu kami melihat bagaimana kebutuhan perjalanan berkembang dari satu daerah ke daerah lain,” kata Anne.