"Daripada saya terbebani dengan berapa waktu yang akan saya capai nanti, lebih baik yang penting larinya fun aja. Karena mengingat waktu latihan itu juga enggak akan bisa sama kayak mereka yang serius lari. Kerjaan kita kan tidak kayak pekerja kantoran pada umumnya," kata Fanny.

Kegemaran Fanny terhadap lari juga didorong kebutuhannya meningkatkan kemampuan fisik untuk mengikuti Hyrox, kompetisi kebugaran yang memadukan lari dan latihan fungsional.

Sadar membutuhkan fisik yang lebih kuat untuk Hyrox, Fanny mau tak mau menambah latihan, khususnya dalam program lari. Dia bahkan sudah dua kali menjajal race untuk meningkatkan kemampuan fisiknya.

"Sebenarnya dari dulu aku penasaran kenapa tidak bisa lari. Karena kayak kok aku bisa enggak suka lari, di saat semua orang suka lari," tuturnya.

"Sampai akhirnya aku seriusi lari karena hyrox. Di hyrox itu aku harus delapan kali lari, delapan kali station, jadi mau enggak mau, aku harus belajar bagaimana caranya lari cepat. Di situ lah aku memaksa diri lari."

"Jadi kalau ditanya siapa yang ajak (lari)? Enggak ada, dari diri sendiri saja. Kalau tak latihan lari, aku pasti KO. Sebab, habis lari, lalu narik, jadi harus di-combine," tegasnya.