Karena itu, pembelajaran perlu mampu mengembangkan keterampilan akademik, keterampilan hidup, kemampuan sosial, serta kesiapan untuk hidup mandiri. Perspektif ini menunjukkan, keberhasilan pendidikan inklusif tidak cukup dinilai dari angka partisipasi sekolah, tetapi juga melalui kualitas pengalaman belajar yang diperoleh.

Aspek lain yang memperoleh perhatian adalah hak anak untuk dihargai dan terbebas dari diskriminasi. Penulis mengajak pembaca memakai bahasa sensitif, menghormati martabat setiap anak, melibatkan mereka dalam proses pembelajaran, sekaligus membangun budaya sekolah yang menolak bullying dan eksklusi.

Pesan tersebut menegaskan gagasan bahwa pendidikan inklusif bukan semata persoalan metode mengajar, tetapi juga pembentukan budaya kemanusiaan dalam lingkungan pendidikan.

Terakhir, bagian penutup prakata mengungkap motivasi utama penyusunan buku. Yakni berangkat dari kegelisahan penulis terhadap masih banyaknya kesalahpahaman, stigma, dan diskriminasi terhadap anak berkebutuhan khusus.

Pada waktu yang sama, buku ini membawa harapan agar pemahaman yang tepat mampu mendorong terwujudnya lingkungan belajar yang menerima, menghargai, dan memberdayakan setiap anak.

Penulis berupaya menjembatani teori dan praktik agar pendidikan inklusif tidak berhenti sebagai konsep akademik, melainkan benar-benar hadir dalam kehidupan sekolah dan masyarakat. Dengan penyajian sistematis, bahasa yang mudah dipahami, serta materi komprehensif, Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus pantas menjadi referensi penting bagi mahasiswa, guru, calon pendidik, maupun masyarakat umum yang ingin berkontribusi mewujudkan Indonesia semakin inklusif.

Judul Buku: Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus Penulis: Dr Fitri Kania, Lamri; Dr Idat MuqodasPenerbit: PT Refika Aditama, BandungTahun Terbit: April 2026 | 136 halaman | ISBN: 978 623 5031 514

Dosen Digital Public Relations Telkom University