"Setiap peningkatan 1 μg/m³ PM2.5 yang terkait dengan kebakaran meningkatkan risiko kematian anak sebesar 2,3%," tulis UNICEF.
Catatan UNICEF mengungkapkan bahwa asap dari kebakaran lahan secara global telah membunuh hampir 270.000 anak di bawah usia lima tahun.
Dokter Spesialis Pulmonologi Universitas Gadjah Mada (UGM), dr Sumardi, Sp PD-KP, mengatakan kabut asap berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Lebih parah lagi, kabut asap bisa mengganggu perkembangan otak sehingga kecerdasan anak bisa terdampak.
Bahkan, kabut asap bisa mengganggu tumbuh kembang bayi di dalam kandungan. Paparan kabut asap bisa membahayakan ibu hamil dan memicu gangguan hipoksia, yang membuat pasokan oksigen dalam tubuh berkurang.
"Perkembangan otak maupun organnya terganggu dan kebanyakan terlahir dengan berat badan lahir rendah," kata dr Sumardi, dikutip dari laman UGM.
Menurut Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA US), asap kebakaran hutan mengancam kesehatan anak. Apabila anak menghirup asap kebakaran hutan dan lahan, bisa mengalami: