NADIKABAR.COM — Nama Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra berdiri kukuh sebagai jembatan yang menghubungkan dua dunia, romantisme sejarah bangsa dan kemegahan seni pertunjukan Nusantara.
Lahir di Jakarta pada 13 Januari 1953, putra bungsu dari pasangan Proklamator RI Soekarno dan Fatmawati ini tumbuh dalam lingkungan yang sarat akan pusaran estetika, nilai kebangsaan, dan kebudayaan yang kuat.
Ketika sebagian besar saudaranya melangkah mantap di panggung politik praktis sejak awal, Guruh memilih jalur untuk merawat Indonesia melalui ketukan nada, gerak tari, dan untaian bait lagu.
Guruh bukan sekadar pewaris nama besar trah Soekarno. Ia membuktikan dirinya sebagai seorang maestro yang mampu keluar dari bayang-bayang besar sejarah keluarganya.
Lewat sentuhan tangan dinginnya, seni tradisional Indonesia tidak lagi dipandang sebagai benda museum yang kaku atau pertunjukan usang, melainkan sebuah pertunjukan bertaraf internasional yang megah, dinamis, dan terus bernapas mengikuti zaman.