NADIKABAR.COM — Suara dentuman dan getaran yang terdengar warga di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, hingga Lampung pada Jumat (4/9/2026) malam hingga Sabtu (5/9/2026) dini hari diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Badan Geologi menyebut kedua fenomena tersebut terjadi pada waktu yang bersamaan.

Gunung Anak Krakatau diketahui tengah mengalami erupsi menerus disertai suara gemuruh. Aktivitas tersebut berlangsung sejak Jumat malam hingga Sabtu dini hari, saat laporan mengenai dentuman dan getaran dari warga mulai bermunculan di sejumlah daerah.

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan keterkaitan suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat dengan aktivitas Anak Krakatau masih berupa dugaan. Meski demikian, kemunculan kedua fenomena pada waktu yang bersamaan menjadi salah satu hal yang sedang diperhatikan.

Fenomena ini kemudian mengingatkan pada catatan sejarah letusan Krakatau pada 1883. Kala itu, suara gemuntur disebut telah terdengar sebelum letusan dahsyat yang kemudian memicu tsunami di kawasan Selat Sunda.

Dahulu, letusan gunung tersebut menimbulkan kegelapan yang pekat di siang hari kareka abu yang bertebaran. Gempa disusul tsunami dengan gelombang puluhan meter menjadi maut yang menjemput ribuan nyawa.

Namun, di tim redaksi sekian banyak warga di sekitar lokasi terdekat dengan Gunung Krakatau, ada orang-orang yang selamat yang kemudian menceritakan kesaksiannya atas bencana itu.

Peneliti, Romi Zarman dalam studi berjudul 'Letusan Krakatau 1883 dan Korban-korbannya di Desa Nelayan Karangantu Banten: Kesaksian Ong Leng Yauw' yang dimuat Jurnal Wacana Etnik (2013), mengutip kesaksian Ong Leng Yauw.

Ong Leng Yauw adalah orang Tionghoa yang selamat dari letusan Krakatau 1883. Dia merupakan warga yang lahir dan besar di desa nelayan Desa Karangantu, Banten. Ketika Krakatau meletus, dia berusia 14 tahun.