Angka tersebut kata dia, dapat meningkat menjadi sekitar 6.500 hingga 7.000 ton, bahkan mencapai 7.500 ton pada periode tertentu, seperti hari besar keagamaan.

Besarnya kebutuhan tersebut menjadi peluang bagi Dharma Jaya untuk memperkuat rantai usaha pangan, mulai dari pengadaan dan penggemukan sapi, pengolahan, hingga distribusi kepada masyarakat.

Salah satu rencana pengembangan yang tengah didorong adalah pembangunan fasilitas di kawasan Ciangir, Banten dengan memanfaatkan lahan milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta seluas 15 hektare.

Lokasi tersebut memiliki potensi besar untuk mendukung pengembangan usaha Dharma Jaya secara terintegrasi. Selain memiliki lahan yang luas, akses dari Jakarta menuju kawasan tersebut juga relatif mudah karena dapat ditempuh melalui jalur darat dan jalan tol.

"Ini merupakan peluang yang sangat luar biasa. Kita bisa melakukan pembangunan dari mulai pekerjaan, kemudian penggemukan, pengolahan sampai distribusi," katanya.

Ia menilai, penguatan rantai pasok dari hulu hingga hilir penting untuk membangun kemandirian pangan Jakarta. Terlebih, Jakarta memiliki jumlah penduduk sekitar 10,5 juta jiwa sehingga kebutuhan pangan, khususnya daging harus dijamin secara berkelanjutan.

"Ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan komoditas, tetapi juga kemampuan pemerintah daerah dan BUMD membangun sistem pangan yang lebih mandiri," ujarnya.

Sementara itu, Legislator Komisi B DPRD DKI Jakarta Ahmad Lukman Jupiter memastikan dukungan terhadap rencana Perumda Dharma Jaya dalam menjaga ketahanan pangan pemenuhan komoditas peternakan dan pengembangan bisnis.