NADIKABAR.COM — Karhutla di berbagai wilayah di Indonesia tengah menjadi sorotan. Menurut guru besar kelompok keahlian Teknologi Kehutanan Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof Endah Sulistyawati, pemahaman terhadap api tidak cukup hanya dilihat dari ada atau tidaknya lahan yang terbakar.
Ia menilai konteks penggunaan api, tujuan, skala, teknik pengendalian, tak terkecuali kondisi lanskap di sekitarnya juga perlu dicermati. Pelajaran itulah yang ia dapat saat mengunjungi komunitas Dayak Iban Menua Sungai Utik di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat beberapa waktu lalu.
Prof Endah menyampaikan komunitas Dayak Iban di Sungai Utik mempunyai praktik peladangan gulir balik atau swidden agriculture yang diwariskan lintas generasi. Dalam sistem ini, api merupakan bagian dari salah satu tahapan untuk mempersiapkan lahan.
Walau demikian, api tidak berdiri sendiri karena terdapat sistem kelola lahan yang mencakup pengetahuan lokal, atural sosial, teknik pengendalian, dan pemahaman terhadap kondisi lingkungan.
Prof Endah menegaskan, untuk memahami api, maka perlu melihat sistem di balik api tersebut.
Prof Endah melihat masyarakat Dayak Iban di Sungai Utik memiliki pertimbangan kondisi lingkungan dan aspek keselamatan dalam pemanfaatan api. Dalam sistem gulir balik, lahan yang akan ditanami umumnya merupakan hutan sekunder bekas ladang yang sudah ditinggalkan selama beberapa tahun dan mengalami proses suksesi. Komunitas tersebut mempunyai pengetahuan untuk menentukan kapan suatu lahan dinilai cukup pulih dan bisa dimanfaatkan kembali.
Saat lahan dipersiapkan, pohon ditebang dan vegetasi bawah ditebas. Biomassa tersebut selanjutnya direbahkan di atas tanah.
Kayu yang masih bernilai digunakan untuk bahan bangunan dan sebagian lainnya dipakai untuk bahan bakar. Di sisi lain, material lainnya dibiarkan mengering sebelum dilakukan proses pembakaran.