Kondisi itu dapat diperburuk oleh kesenjangan generasi yang memicu miskomunikasi di lingkungan keluarga.

β€œDengan kondisi psikologis remaja yang kritis, tetapi pertimbangannya belum utuh, perekrutan untuk radikalisme terhadap mereka menjadi sangat mudah,” kata Putri.

Ia menjelaskan, proses radikalisasi digital berlangsung secara halus dan bertahap. Perekrut atau pelaku yang mengincar anak di ruang digital membutuhkan waktu untuk membangun kepercayaan melalui interaksi yang konsisten.

Kepercayaan tersebut dibangun dengan memberikan perhatian yang mungkin tidak diperoleh anak di dunia nyata. Setelah kedekatan terbentuk, pelaku dapat memanipulasi hubungan emosional untuk memengaruhi anak.

β€œHal ini menciptakan rasa senang dan berterima kasih dari anak, yang justru berbahaya ketika anak mulai merasa berutang kebaikan,” katanya.