NADIKABAR.COM — Indonesia sejak lama dikenal luas sebagai produsen sekaligus eksportir komoditas pala terbesar dengan kontribusi pemenuhan kebutuhan global mencapai 80 persen. Pasar utama penyerap rempah andalan Nusantara ini masih didominasi oleh China dan Vietnam.

Pada periode Januari-Mei 2026, kajian Indonesia Eximbank Institute mencatat terjadi pelemahan ekspor pala yang sejalan dengan penurunan permintaan dunia, khususnya negara tujuan ekspor Tiongkok. Ekspor pala, bunga pala, kapulaga (HS 0908) mengalami kontraksi pada akumulasi nilai dan volume masing-masing sebesar -12,8% dan -18,2% (ctc) dibanding akumulasi periode Januari-Mei 2025. Hal ini dikarenakan perlambatan ekonomi yang menjadi penyebab pelemahan konsumsi rumah tangga di China.

Dalam upaya meningkatkan kembali ekspor pala ke negara tujuan ekspor China, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)/Indonesia Eximbank bersinergi denganKementerian UMKM RI hadir dan berpartisipasi pada pameran The 21st China International Small and Medium Enterprises Fair (CISMEF) 2026 yang diselenggarakan di Guangzhou, China oleh Ministry of Industry and Information Technology China pada tanggal 3-6 September 2026 untuk mendukung akses pasar Usaha Kecil Menengah (UKM) Indonesia ke buyer potensial.

Indonesia Eximbank secara intensif mendampingi para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) sektor rempah dan produk kelapa lewat fasilitas business matching. Dukungan nyata tersebut sukses dimanfaatkan secara optimal oleh CV Alpha Agro Indonesia. Eksportir lokal ini berhasil mencatatkan transaksi pascapameran berupa 20 ton pala dengan nilai mencapai Rp 181,3 juta.