NADIKABAR.COM — Masyarakat Desa Sebunga di Kawasan Transmigrasi Gerbang Mas Perkasa, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, kini dapat menghemat biaya belanja harian sekaligus mewujudkan kemandirian pangan keluarga.

Manfaat nyata ini dirasakan langsung oleh warga setelah pekarangan rumah yang sebelumnya tandus dan berbatu berhasil disulap menjadi kebun sayur berkat gotong royong bersama Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (TEP UI).

Salah satu warga pemilik pekarangan percontohan di Sebunga Ana Sofia mengaku gembira karena kehadiran program ini memberikan kegiatan produktif bagi para ibu rumah tangga.

"Kami senang dengan adanya Tim Ekspedisi Patriot, ibu-ibu di sini jadi ada kegiatan yang produktif. Hasil sayurannya nanti bisa untuk makan sehari-hari, tidak perlu membeli. Kalau membeli sayuran dari Sambas itu jauh, butuh dua jam perjalanan," ujar Ana dalam keterangan tertulis, Rabu (30/9/2026).

Sementara itu, warga transmigrasi lainnya Ola mengatakan sebelumnya kondisi fisik lahan menjadi rintangan utama di kawasan tersebut.

"Di sini tanahnya kering, kuning berbatu, tidak ada air. Bukannya kami tidak mau menanam sayur, tetapi susah karena tanaman gampang mati," ujar Ola.

Merespons kendala tersebut, TEP UI menggelar Focus Group Discussion (FGD), Sabtu (29/8), untuk menentukan lokasi dan memilih 10 komoditas utama, seperti timun, cabai, tomat, hingga tanaman obat keluarga. Proses pengolahan dilakukan bertahap mulai dari penggemburan tanah dengan traktor tangan bantuan Kapolsek Sajingan Besar, pemberian kapur dolomit, hingga pengayaan nutrisi tanah menggunakan limbah sawit dan pupuk organik.

Perwakilan TEP UI Rahayu berharap program optimalisasi pekarangan berbasis konsep Integrated Farming ini dapat terus berlanjut secara mandiri oleh masyarakat setempat.

"Optimalisasi pekarangan ini merupakan bagian dari konsep Integrated Farming. Kami berharap, dengan adanya local champion dan kesepakatan sosial, program ini terus berjalan berkelanjutan secara mandiri," kata Rahayu.

Upaya kemandirian pangan di daerah transmigrasi ini sejalan dengan arah kebijakan prioritas pemerintah pusat. Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan pentingnya swasembada pangan di tengah ketidakpastian kondisi global.

"Di tengah dunia sekarang, dunia yang penuh dengan konflik, bahkan dengan perang-perang di mana-mana, kita harus swasembada pangan, kita harus swasembada energi. Kita tidak boleh bergantung dengan bangsa lain," ujar Prabowo.

Sementara itu, Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pengembangan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) juga menambahkan agar para Patriot bisa memetakan masalah yang dihadapi masyarakat dan mencarikan solusi yang terbaik yang bisa ditindaklanjuti untuk memajukan ekonomi warga.

"Karena permasalahan itu pada akhirnya konteksnya lokal. Jadi kita boleh berpikir besar, sering kita menggunakan istilah think globally but act locally. Pada akhirnya lokal," kata AHY.

Prinsip menghadirkan manfaat yang berkelanjutan juga menjadi pesan Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara.

"Transformasi transmigrasi hari ini bukan sekadar memindahkan penduduk, melainkan bagaimana memastikan kesejahteraan tumbuh di kawasan tersebut," ujar Iftitah.