NADIKABAR.COM — Ramai isu meluasnya sebaran gas sulfur dioksida (SO2) imbas erupsi Gunung Anak Krakatau yang disebut-sebut telah mencapai wilayah Jawa Tengah. Narasi tersebut memicu kekhawatiran masyarakat terkait dampak paparan gas beracun bagi kesehatan saluran pernapasan.
Menanggapi hal tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan klarifikasinya. Pihaknya membenarkan adanya perluasan sebaran gas berdasarkan citra satelit.
"Sebaran gas SO2 memang benar meluas, itu fakta dari citra satelit. Tapi, luasnya sebaran di peta atmosfer tidak sama dengan tingkat bahaya yang benar-benar dirasakan warga di permukaan tanah," tulis BMKG melalui akun resmi X @infoBMKG yang dikutip NadiKabar.com, Selasa (8/9/2026).
BMKG menjelaskan bahwa warna merah pada peta satelit kolom atmosfer bukan penentu mutlak bahaya kualitas udara yang dihirup warga. Setelah menempuh jarak ratusan kilometer, sebagian besar gas SO2 bereaksi dengan oksigen dan uap air di udara, berubah wujud menjadi aerosol sulfat atau partikel halus.
"Karena sudah berbentuk partikel, sifatnya pun berubah, tidak lagi menyengat seperti gas segar dekat kawah, melainkan lebih mirip debu atau kabut halus yang bercampur dengan abu vulkanik," lanjut BMKG.
Artinya, zat yang sampai ke permukaan tanah di kawasan pemukiman, termasuk Jabodetabek, dominan berupa abu vulkanik bercampur sebagian kecil partikel sisa perubahan SO2, bukan gas murni pekat seperti di area kawah.