“AI bisa membantu kecepatan, tapi AI tidak punya nurani, tidak punya etika jurnalistik, dan tidak bisa turun ke lapangan untuk merasakan denyut nadi masyarakat. Itu yang harus terus kita tanamkan dalam setiap pelatihan di LPDS,” ujarnya.
Jimmy menambahkan, LPDS mengajak pemerintah, sektor swasta, dan industri media berkolaborasi mengembangkan program pelatihan jurnalistik yang menjangkau berbagai daerah di Indonesia.
Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Pers Totok Suryanto mengatakan, pertumbuhan pers digital yang pesat diikuti tantangan berupa banjir informasi, disrupsi algoritma, dan perkembangan AI yang dapat mengaburkan batas antara berita berkualitas dan konten biasa.
“Di sinilah peran LPDS menjadi sangat vital untuk menjaga marwah jurnalistik,” kata Totok.