Keterampilan tersebut dapat menjadi modal untuk memasuki dunia kerja, membangun usaha, maupun mengembangkan unit usaha yang telah dimiliki pesantren.

“Harapannya, santri tidak hanya memiliki bekal keilmuan, tetapi juga keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan dunia usaha. Dengan begitu, pesantren semakin kuat dalam menjalankan fungsi pemberdayaannya,” kata dia.

Direktur Pemberdayaan Pesantren Yusi Damayanti menjelaskan skema TMT memiliki keunggulan karena pelatihan disusun berdasarkan kebutuhan mitra. Pesantren dapat mengidentifikasi potensi dan kebutuhan di lingkungannya, kemudian mengusulkan jenis pelatihan yang sesuai.

“Pendekatan tailor made ini memungkinkan pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan pesantren. Jadi, programnya tidak harus seragam. Kita bisa melihat potensi unit usaha, kebutuhan masyarakat, maupun peluang kerja di wilayah sekitar pesantren,” kata Yusi.

Dalam skema tersebut, sasaran peserta tidak terbatas pada santri tingkat akhir. Alumni pesantren yang belum bekerja atau ingin beralih pekerjaan, ustaz dan pengelola unit usaha pesantren, serta masyarakat sekitar juga dapat mengikuti pelatihan. Hasil yang dituju mencakup peserta siap kerja, mampu berwirausaha, dan berkembangnya unit usaha pesantren.