"Salah satu yang harus kita tingkatkan agar akses informasi perempuan terhadap situasi bencana menjadi lebih baik. Perempuan mendapat sumber informasi langsung dari sumber informasi yang terpercaya, yaitu kanal-kanal pemerintah misalnya," kata dia.
Peningkatan akses informasi ini, kata Dwi, dibutuhkan lantaran persentase perempuan yang mendapat informasi resmi lebih kecil daripada kelompok laki-laki, berdasarkan hasil survei Badan Dunia yang bertugas untuk mengurangi dampak bencana di masyarakat (United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR).
"Artinya perempuan ternyata lebih banyak dapat informasi tentang kebencanaan itu dari sumber-sumber yang informal dan dari media sosial. Dibanding laki-laki yang ternyata mereka terakses informasi dari sumber-sumber yang lebih resmi," jelas Dwi.
Menurut dia, perempuan harus mendapat informasi yang resmi dari jalur yang tepat, agar mereka dapat mengetahui risiko kebencanaan pada lingkungannya, sehingga bisa melakukan mitigasi lebih baik.Adapun peningkatan akses informasi tersebut salah satunya dilakukan melalui kegiatan seminar daring yang diikuti perwakilan organisasi perempuan, perwakilan Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga, kader dasawisma, dan pengelola Ruang Publik Terpadu Ramah Anak.