Dia mengatakan, pada ketinggian permukaan, 1.000 meter, dan 2.000 meter, arah angin yang berpotensi menjadi lintasan polutan skala besar masih berasal dari timur hingga tenggara. Hal itu, kata Yogi, mengikuti pola angin global di Indonesia.
"Arah angin pada setiap ketinggian yang dimodelkan (permukaan, 1000m, dan 2000m) menunjukkan arah angin yang berpotensi menjadi lintasan polutan skala besar masih berasal dari arah Timur hingga Tenggara, mengikuti pola angin global di Indonesia saat ini yang bergerak menuju atas (monsoon Australia)," ungkapnya.
"Lintasan polutan ini menunjukkan bahwa kecil kemungkinan polusi di Jakarta saat ini (per 14-15 oktober 2026) dipengaruhi oleh Karhutla yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan," imbuh dia.