Sebagai pengguna tangan kanan yang dominan, Stewart mengambil keputusan sulit. Ia memilih mengorbankan tangan kirinya untuk menghantam hiu tersebut. Sebuah pertanyaan singkat sempat terlintas di benaknya: "Anggota tubuh mana yang rela saya korbankan?"
"Dalam benak saya, saya berpikir, 'dasar makhluk jelek, kau tidak boleh memisahkan aku dari putriku', lalu saya memutar tubuh dan mulai memukulnya berulang kali," ujarnya.
Pukulan itu tidaklah mudah. Stewart menggambarkan kerasnya tubuh hiu tersebut seperti menghantam benda padat yang mustahil ditembus. "Ukurannya sangat besar. Rasanya seperti memukul dinding bata," imbuhnya.
Meski berhasil mengusir hiu, Stewart harus membayar mahal. Lengan kiri dan pahanya mengalami luka parah sebelum tim penyelamat tiba. Di tengah kondisi kritis dan kesadaran yang timbul-tenggelam di atas pasir pantai, hanya satu wajah yang terbayang di benaknya: sang buah hati.
"Aku berpikir, 'Dia tidak akan punya ibu. Dia akan tumbuh besar tanpa seorang ibu.' Aku tidak sanggup membayangkannya. Aku tidak ingin dia hidup tanpa ibu," ujarnya lirih.