"Saya tidak melihat papan skor sampai hole ke-15, saat ada papan leaderboard di samping green. Saat itu skor saya 14-di bawah-par dan saya rasa saya tertinggal satu pukulan dari Darcy," ujar Xu.
"Akhirnya saya berhasil memasukkan pukulan birdie dari pinggiran green di sana (15), lalu membuat beberapa birdie lagi di tiga hole terakhir untuk menutup putaran akhir dengan kemenangan, unggul satu pukulan," sambungnya.
"Di green-green seperti ini, Anda tidak benar-benar tahu apakah putt sejauh 20 kaki itu akan masuk. Saya hanya berkata pada diri sendiri sebelum setiap putt, 'Lakukan saja putt yang bagus. Ini sama seperti semua putt yang Anda latih. Jangan pikirkan skornya.' Dan kemudian bola-bola itu pun masuk."
Kemenangan ini menjadi momen emosional bagi Xu, yang sedang menjalani musim pertamanya berkompetisi di Asian Tour dan ADT. Apalagi setelah menyelesaikan kuliahnya pada 2024, Xu belum bisa meraih gelar.
"Rasanya luar biasa. Sejujurnya, sudah lama sekali saya tidak merasakan hal seperti ini. Kemenangan turnamen terakhir saya terjadi saat kuliah, dan bisa menang di panggung profesional seperti ini sangat berarti bagi saya."
kesuksesan perhelatan The Indonesia Pro-Am tentu saja memberikan kepuasan bagi para sponsor, yakni Combiphar dan Nomura. Mereka tetap berkomitmen menyelenggarakan turnamen untuk melahirkan para juara di level internasional.
"Setelah menyelenggarakan turnamen ADT sejak 2016 di Gunung Geulis, kami mengubah format menjadi pro-am melalui The Indonesia Pro-Am presented by Combiphar & Nomura pada 2023, tepatnya 4 tahun lalu. Jadi, selain menampilkan nomor individual, turnamen ini pun mengedepankan kategori beregu (pro-am), yang ternyata disukai para amatir kita," kata Michael Wanandi selaku Presiden Direktur Combiphar.