"Paling tidak kegiatan nostalgia Dugderan ini supaya mengingatkan tiap generasi, supaya tiap tahun itu harus diadakan," ujarnya.

Kembalinya suasana Dugderan juga disambut baik para pedagang. Denny (47), salah satu penjual ketan biru, kue coro, dan telur petis bumbon itu mengaku senang karena sejumlah menu tradisional yang biasanya hanya muncul saat Dugderan kembali bisa dijual.

"Kami sangat senang. Dari menu-menu yang harusnya adanya setahun sekali jadi kita bisa masak, paling nggak ada Dugderan lagi, ramai lagi," kata Denny.

Untuk kegiatan kali ini, dia baru menyiapkan sejumlah menu seperti petis bumbon dan ketan gula. Namun, jika pelaksanaan Dugderan berlangsung lebih panjang, dia berencana menambah menu lainnya.

"Biasanya kalau kita Dugderan yang mau puasa itu komplit. Ada babat gongso, ada coro santen, gitu. Macam-macam," ujarnya.

Menurut Denny, menu-menu tradisional yang jarang tersedia memang memiliki peminat tersendiri. Dia berharap, kedatangan peserta MTQ Nasional dari berbagai daerah dapat memperkenalkan kuliner khas Semarang kepada masyarakat luar kota.

"Jadi lebih banyak pembeli, jadi tahu di sana ada ini, di sini ada ini. Jadi ini bisa memperkenalkan kuliner Semarang ke masyarakat yang dari luar kota," katanya.