Sementara itu, para nelayan mempelajari penanganan hasil tangkapan setelah panen melalui penggunaan cold storage. Fasilitas tersebut dapat membantu menyimpan ikan selama 5-7 hari sehingga kualitas hasil tangkapan tetap terjaga sebelum diolah atau dipasarkan.

Dengan modal produksi sekitar Rp 100 ribu-Rp 300 ribu per hari, kelompok nelayan Seir Saharey dapat memperoleh pendapatan Rp 400 ribu-Rp 800 ribu. Pengolahan hasil tangkapan ini membuka peluang peningkatan nilai ekonomi dibandingkan hanya menjual ikan dalam kondisi segar.

Salah satu peserta pendampingan, Mama Nayu Ohoibor, mengaku merasakan perubahan setelah mengikuti kegiatan tersebut. Ia bersama warga kini mampu mengolah ikan menjadi sejumlah produk makanan yang memiliki nilai jual.

"Alhamdulillah, sekarang kami sudah bisa kelola abon, bakso, nugget, sama keripik yang terbuat dari ikan. Tadinya yang kita hanya makan dan jual dengan murah. Dengan adanya kegiatan ini kami bisa berubah dari penghasilan yang tadinya mungkin sedikit, bisa menambah ekonomi dalam hidup kami ke depan," ujarnya pada 26 Oktober 2026.

Pengembangan usaha olahan ikan di Weri-Saharey juga sejalan dengan upaya pemerintah mendorong swasembada pangan. Presiden RI Prabowo Subianto sebelumnya menekankan pentingnya kemandirian pangan dan energi di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.