NADIKABAR.COM — Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, menilai Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan blue carbon atau karbon biru. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan pembiayaan sehingga diperlukan upaya membangun kepercayaan investor.
Hal itu disampaikan Eddy dalam forum Carbon Talk yang digelar oleh Carbon Ethics bersama Indonesia International Sustainable Forum (ISF) 2026, di Ballroom C, Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta.
"Indonesia tidak kekurangan blue carbon. Yang perlu kita bangun adalah kepercayaan, dan kepercayaan dapat dibangun melalui aturan yang ditegakkan," ujar Eddy dalam keterangan tertulis, Rabu (7/10/2026).
Eddy mengatakan Indonesia memiliki sekitar 3,4 juta hektar mangrove atau sekitar 20% dari total mangrove dunia. Selain itu, Indonesia juga memiliki sekitar 660.000 hektare padang lamun.
Eddy mengungkapkan berbagai ekosistem tersebut memiliki kontribusi besar terhadap cadangan blue carbon dunia. Namun, Indonesia baru menyumbang sekitar 6% dari penerbitan kredit karbon biru secara global.
Eddy menilai kesenjangan antara potensi dan penerbitan kredit karbon tersebut bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga kelembagaan.
"Blue carbon credit adalah sebuah janji yang berjalan selama beberapa dekade. Karena itu, investor hanya akan berkomitmen ketika mereka dapat memverifikasi secara tepat apa yang mereka beli," katanya.