NADIKABAR.COM β€” Tim ekonom Bank Danamon merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,35 persen dari sebelumnya 5,2 persen, menyusul realisasi pertumbuhan ekonomi triwulan III yang mencapai 5,47 persen.

Selain itu, tim ekonom Bank Danamon juga menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 menjadi 5,26 persen dari sebelumnya 5,1 persen.

β€œAlasannya kenapa? Ternyata ada faktor eksternal yang lebih baik daripada perkiraan, dan investasi yang kami lihat masih akan terus berlanjut terutama yang didorong oleh sektor publik termasuk tahun depan juga,” kata Lead Economist Bank Danamon Irman Faiz dalam FGD bersama media di Kota Sabang, Aceh, Kamis.

Untuk diketahui, pertumbuhan ekonomi triwulan III 2026 tercatat sebesar 5,47 persen secara tahunan (year on year/yoy) atau meningkat dari pertumbuhan ekonomi pada triwulan sebelumnya sebesar 5,29 persen (yoy).

Faiz menjelaskan, konsumsi rumah tangga dan investasi memang masih memberikan andil terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi, mengingat keduanya mendominasi struktur produk domestik bruto (PDB).

Meski demikian, menurutnya, perbaikan net ekspor menjadi faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi pada triwulan III 2026.

Ia menambahkan bahwa perbaikan net ekspor tersebut didukung oleh kinerja ekonomi mitra dagang utama Indonesia, seperti Amerika Serikat (AS) dan China, yang tumbuh lebih baik daripada perkiraan pelaku pasar.

β€œNet ekspor yang membaik inilah yang membuat growth kita bisa di 5,47 persen,” ujar dia.

Di sisi lain, imbuh Faiz, kontribusi sejumlah komponen domestik, seperti konsumsi rumah tangga, investasi, dan konsumsi pemerintah, cenderung menurun.

β€œJadi kalau kita lihat, perbaikannya lebih kepada perbaikan kondisi eksternal dibandingkan dengan perbaikan kondisi domestik. Artinya ini masih menjadi PR kita kalau kita mau sustain growth-nya di tahun ini dan tahun depan, yang domestik ini juga harus ikut,” kata Faiz.

Ia memperkirakan perbaikan kinerja ekspor dapat mendorong konsumsi rumah tangga melalui peningkatan penerimaan masyarakat, baik dalam bentuk bonus maupun pendapatan pekerja, yang selanjutnya dibelanjakan untuk konsumsi.

Namun begitu, menurut Faiz, dampak positif perbaikan ekspor terhadap konsumsi rumah tangga tidak langsung terasa sepenuhnya. Berdasarkan perkiraannya, dampak tersebut baru akan dirasakan secara penuh sekitar dua kuartal setelah perbaikan ekspor terjadi.

β€œIni yang membuat kami melihat konsumsi rumah tangga di semester I tahun depan itu akan relatif lebih baik. Dan ini yang menjadi dorongan kenapa kami merevisi ke atas pertumbuhan ekonomi di tahun 2027,” kata Faiz.