NADIKABAR.COM β Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin meminta pemerintah membatasi impor secara selektif guna menjaga surplus ekspor nonmigas yang mulai tergerus akibat pertumbuhan impor yang kian tinggi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), surplus perdagangan nonmigas Indonesia pada JanuariβJuli 2026 tercatat 22,45 miliar dolar AS. Namun, pada periode yang sama nilai impor Indonesia tumbuh 19,94 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor yang mencapai 4,43 persen (yoy).
"Surplus masih kita nikmati tetapi semakin tergerus. Jika tidak ada respons strategis, defisit (ekspor) berpotensi terjadi dalam waktu dekat," kata Wijayanto kepada NadiKabar di Jakarta, Selasa.
Maka dari itu, pemerintah dinilai perlu mengambil sejumlah langkah strategis agar surplus perdagangan nonmigas tidak terus menyusut, salah satunya dengan membatasi impor secara selektif.
Selain pengendalian impor, pemerintah perlu memperkuat nilai tambah dan diversifikasi produk ekspor sehingga ketergantungan terhadap komoditas dapat dikurangi.