NADIKABAR.COM β€” Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Hilirisasi berhasil mengubah posisi Indonesia di dalam industri nikel global, dari pengekspor bijih menjadi pusat produksi olahan nikel.

β€œPeningkatan pangsa pasar nikel olahan Indonesia menunjukkan kebijakan larangan ekspor bijih berhasil menarik investasi smelter sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri. Indonesia juga telah berubah dari pengekspor bijih menjadi pusat produksi olahan," ujar Yusuf dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Senin.

Indonesia menggeser posisi China sebagai produsen nikel olahan terbesar di dunia, setelah mencatatkan pertumbuhan pesat dalam 10 tahun terakhir. Keberhasilan kebijakan hilirisasi nikel di Indonesia membuat pangsa pasar produksi nikel olahan nasional melonjak drastis dari hanya 1 persen menjadi 41 persen dari total produksi dunia.

Besarnya pangsa produksi tersebut sekaligus memberikan Indonesia modal tawar yang semakin kuat di pasar global. Karena itu, Yusuf menilai langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam menata produksi nikel melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) menjadi penting untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan.