NADIKABAR.COM — Dari lima keping medali emas Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026, salah satunya lahir dari selisih yang nyaris tidak terbaca di papan skor.
Desak Made Rita Kusuma Dewi menepuk tombol puncak dinding speed putri dalam 6,062 detik, sementara pemanjat China Deng Lijuan berhenti di 6,064 detik. Jarak dua per seribu detik itu menentukan warna medali. Waktu Desak juga memperbarui rekor Asian Games dan rekor Asia atas namanya sendiri, yang sebelumnya 6,07 detik di Kejuaraan Asia Meishan, April 2026.
Kontingen Merah Putih menutup ajang pada Minggu (4/10) di peringkat ke-16 dengan 39 medali: lima emas, 11 perak, dan 23 perunggu. Jumlah emas itu melampaui target empat keping yang dipatok Kementerian Pemuda dan Olahraga sejak pertengahan tahun.
Target disusun dengan hitungan realistis. Tiga nomor penyumbang emas di Hangzhou 2022 tidak lagi dipertandingkan, yakni running target 10 meter putra, running target campuran, dan perahu naga 1.000 meter. Dengan basis yang menyusut, total medali Indonesia justru naik dari 36 keping di Hangzhou menjadi 39 keping di Aichi-Nagoya.
Selain emas yang diraih Desak, pola selisih tipis juga terjadi di lapangan panahan. Pemanah compound berusia 20 tahun asal Semarang, Nurisa Dian Ashrifah, berhasil mengalahkan pemanah Filipina, Amaya Amparo Cojuangco, dengan skor ketat 139-137. Kemenangan Nurisa ditentukan pada end terakhir saat anak panah pamungkasnya tepat menancap di angka 10, sekaligus menutup paruh akhir pertandingan dengan keunggulan 29-27.
Nurisa datang tanpa status unggulan. Tak banyak yang memperhitungkan atlet muda 20 tahun yang belum kaya pengalaman ini, terlebih ia hanya menduduki peringkat kedelapan di babak kualifikasi dengan 701 poin. Namun, selisih dua poin di partai final sudah cukup untuk memutarbalikkan prediksi dan mengubah status non-unggulan tersebut menjadi raihan emas.