NADIKABAR.COM — Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir mengatakan bahwa dampak ekonomi dari pagelaran MotoGP Mandalika hampir mencapai Rp5 triliun dan akan terus digali untuk mendukung pertumbuhan ekonomi 8 persen.
"MotoGP ini bukan kaleng-kaleng, itu real, ekonomi impactnya mencapai hampir Rp5 triliun," kata Erick Thohir di Jakarta, Rabu, saat menghadiri peluncuran buku "MotoGP Mandalika 2025: Akselerasi Ekonomi, Citra, dan Pariwisata" di Bappenas.
Menurut dia, capaian tersebut akan terus ditingkatkan, agar dampak ekonomi dari perhelatan ajang internasional MotoGP dapat dirasakan lebih luas.
Erick mengatakan bahwa event MotoGP benar-benar menjadi sebuah program yang impactful baik di tingkat nasional maupun juga untuk daerah.
"Kami terus tingkatkan, dan target pengunjung tahun ini bisa 145 ribu orang," ujarnya.
Erick menambahkan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan kementerian terkait untuk pengembangan wisata olahraga, mengingat potensi yang dimiliki begitu besar.
Menurut dia, salah satu misi dalam pengembangan wisata olahraga ini merupakan bentuk dukungan kepada Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan pertumbuhan ekonomi bisa mencapai angka 8 persen.
"Kita gali seluruh potensi yang kita bisa serahkan kepada bangsa ini. Tentu salah satunya dengan mengoordinasikan, mengimplementasikan, dan menghasilkan sebuah kegiatan yang impactful untuk sport tourism," katanya menambahkan.
Sebelumnya, Erick mengatakan bahwa potensi wisata olahraga (sport tourism) perlu digarap secara lebih maksimal; karena secara global nilainya mencapai Rp9.500 triliun dan Indonesia baru mendapatkan 0,5 persen dari nilai global tersebut.
"Olahraga ini sangat berpotensi, potensi yang luar biasa yang selama ini kita tidak melihat. Padahal kalau kita lihat, sport industry itu sekarang kurang lebih Rp8.000 triliun, ini angka yang luar biasa. Lalu kalau kita bicara sport tourism itu mencapai Rp9.500 triliun. Ini secara global," kata Erick.
Erick mengatakan bahwa potensi yang ada harus dimaksimalkan dengan baik, karena saat ini Indonesia baru mendapatkan sekitar Rp39 triliun atau 0,5 persen dan secara global tertinggal jauh.
Menurut dia, ketika potensi yang begitu besar dapat digali, maka diyakini akan memperoleh lebih besar dari yang sekarang.