"Gunung api Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai dengan suara gemuruh. Sampai saat ini tanggal 5 September 2026, pukul 04.40 wib masih berlangsung erupsi menerus dan masih terdengar gemuruh dari Pos PGA Krakatau Pasauran dari erupsi menerus GAK," imbuhnya.

Kendati demikian, kata Lana, erupsi tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Dia menyebut perkembangan aktivitas dan perubahan morfologinya tetap dipantau secara intensif.

"Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Meskipun demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologinya tetap dipantau secara intensif," katanya.

Lana mengungkap erupsi menyerupai lava fountain atau lava air mancur yang menghasilkan aliran lava dengan semburan merah menyala. Status Gunung Anak Krakatau saat ini masih di level III atau Siaga.

"Tinggi kolom erupsi tidak teramati, akan tetapi warna merah menyala semburan erupsi terlihat jelas secara menerus. Fenomena erupsi ini menyerupai "lava fountain" atau lava air mancur yang menghasilkan aliran lava. Erupsi menerus dalam durasi beberapa jam yang berasosiasi dengan erupsi lava air mancur adalah fenomena umum yang sering terjadi," katanya.