NADIKABAR.COM β Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan Indonesia tidak mengimpor bahan bakar minyak (BBM) dari China, dan sejauh ini belum terdapat masalah impor BBM maupun minyak mentah (crude).
βKita mendatangkan crude maupun BBM masih aman. Enggak ada (impor dari China),β ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis.
Pernyataan tersebut merespons kabar penutupan sementara ekspor BBM dari China. Berdasarkan pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Indonesia mengimpor mayoritas BBM-nya dari negara-negara Asia Tenggara, dengan lebih dari 50 persen besar BBM-nya dari Singapura, dan sekitar 30 persen dari Malaysia.
Sementara itu, ketika disinggung mengenai kemungkinan Malaysia dan Singapura yang mengimpor produk dari China, Laode menyampaikan akan berkoordinasi dengan pihak-pihak pengimpor, seperti Pertamina.
βItu saya coba tanya Pertamina. Pertamina yang tahu persis kalau masalah itu, ya. Tetapi kalau yang sejauh ini, Indonesia enggak dari sana langsung,β kata Laode.
Diwartakan sebelumnya, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menyampaikan sumber pasokan energi Indonesia berasal dari Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Serikat.
Akan tetapi, sejak konflik geopolitik di Timur Tengah memuncak dan berimbas pada penutupan Selat Hormuz, Pertamina mencari alternatif impor untuk menggantikan pasokan yang berasal dari Timur Tengah.
Kemudian, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan impor BBM untuk Indonesia datang dari Afrika, Amerika Selatan, dan Asia Tenggara.
Bahlil melaporkan kebutuhan BBM seperti solar saat ini sudah dapat dipenuhi dari dalam negeri.
Menurutnya, hal itu didukung oleh program pencampuran biodiesel dan telah beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan.
Ia mengatakan produk BBM Indonesia yang masih mengimpor dari negara lain hanya berjenis bensin. Pasokan tersebut didapatkan dari Malaysia dan Singapura.
Lebih lanjut, Bahlil mengatakan ke depan Indonesia harus mulai mengembangkan kilang-kilang untuk produksi di dalam negeri.