NADIKABAR.COM — Formula 1 (F1) mencapai kesepakatan kerja sama dengan durasi 10 tahun untuk menggelar balapan atau Grand Prix (GP) di Rwanda yang dijadwalkan mulai pada awal 2030-an.
Dikutip dari laman resmi F1, Selasa, Presiden dan CEO F1 Stefano Domenicali mengatakan Afrika kembali menjadi lokasi balap F1 dan itu menjadi hari yang bersejarah.
"Dengan masuknya Rwanda ke dalam kalender mulai dekade mendatang, olahraga kami akan menggelar balapan di setiap benua yang berpenghuni. Afrika senantiasa menjadi bagian dari masa depan Formula 1," ujar Domenicali.
BREAKING: Formula 1 returns to Africa with 10 year agreement to race in Rwanda The African Grand Prix is set to join the F1 calendar in the early 2030s #F1 https://t.co/IlsKseMnNa
Berdasarkan perjanjian jangka panjang itu, balapan pertama di negara tersebut akan digelar setelah sirkuit khusus yang dibangun di Bugesera, Rwanda, diperkirakan selesai pada awal dekade mendatang.
Lintasan baru itu akan dibangun dengan standar FIA Grade 1 sebagai bagian dari proyek pengembangan yang lebih luas, mencakup sektor olahraga, pariwisata, infrastruktur, dan komersial, yang dipimpin oleh Rwanda Development Board.
Terletak sekitar 40 kilometer di selatan ibu kota Kigali dan bersebelahan dengan Bandara Internasional Kigali yang baru, sirkuit itu akan dirancang agar selaras dengan lanskap alam.
Desain sirkuit akan memanfaatkan variasi ketinggian lahan untuk menciptakan pengalaman balap yang unik dan menantang, sekaligus menyuguhkan sudut pandang istimewa bagi para penggemar.
Kepastian Rwanda menjadi tuan rumah balapan F1 pada 2030 sekaligus menyudahi penantian panjang benua Afrika untuk kembali menggelar ajang bergengsi tersebut.
Terakhir kali balapan F1 digelar di Afrika terjadi pada 14 Maret 1993 ketika melangsungkan Grand Prix di Sirkuit Kyalami, Gauteng, Afrika Selatan yang dimenangkan pembalap Prancis Alain Prost dari tim Williams-Renault.