Pedagang di Bumi Panyileukan biasanya mulai membuka kedainya sejak pukul 10.00 WIB. Saat jam makan siang mendekat, kawasan itu mulai didatangi mahasiswa dari Universitas Terbuka (UT) Bandung, Universitas Muhammadiyah Bandung (UMB), hingga UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Tak hanya mahasiswa, para pekerja di kawasan pergudangan sekitar Bumi Panyileukan juga menjadi pelanggan yang rutin berburu makanan. Bahkan, anggota kepolisian dari Polda Jawa Barat tak jarang datang untuk memesan makanan ketika waktu makan siang tiba.
Beragam latar belakang pengunjung itu membuat jalan di belakang kompleks Bumi Panyileukan tak pernah benar-benar sepi ketika jam makan tiba. Satu per satu kendaraan datang, berhenti di depan kedai yang dituju, lalu pergi setelah perut kenyang atau membawa makanan yang dipesan.
Yang menarik, seluruh aktivitas tersebut tetap berjalan tanpa kehadiran tukang parkir. Kedai-kedai pedagang pun terus buka hingga malam hari dan biasanya mulai tutup sekitar pukul 21.00 WIB atau 22.00 WIB.
Kesepakatan mengenai jam operasional kedai itu rupanya menjadi bagian dari cara warga dan pedagang menjaga kenyamanan kawasan. Para pedagang sepakat tidak berjualan hingga larut malam, sementara warga bersama pedagang juga kompak menolak keberadaan tukang parkir yang datang untuk memungut uang dari pengunjung.
"Intinya saling ngejaga aja di sini mah, biar kalau ada apa-apa ke depannya terus kompak dari pedagang sama warganya," tutur Heri.
Kesepakatan itu bukan sekadar aturan yang hanya terdengar di tim redaksi para pedagang. Rizal (37), pedagang lainnya, bahkan pernah menyaksikan langsung ketika ada tukang parkir yang mencoba masuk ke kawasan tersebut.
Beberapa hari sebelum perbincangan dengan NadiKabar, seorang tukang parkir sempat datang dan menawarkan jasa kepada pengunjung. Namun, keberadaannya tak berlangsung lama. Setelah mendapat teguran dari warga, tukang parkir tersebut akhirnya pergi meninggalkan kawasan.
"Kalau enggak salah dua-tiga harian lah, ada yang datang ke sini mau markir, tapi akhirnya diusir. Diusirnya juga secara halus yah, kang, maksudnya. Tidak sampai terjadi keributan," kata Rizal.
Pada akhirnya, kenyamanan berburu jajanan di Bumi Panyileukan bukan semata karena banyaknya pilihan makanan. Ada kesepakatan sederhana yang terus dijaga tim redaksi warga dan pedagang agar kawasan tetap nyaman bagi siapa pun yang datang.
Pengunjung pun bisa datang tanpa banyak pikir. Memilih makanan yang disukai, memarkirkan kendaraan, menyantap pesanan, lalu pulang tanpa perlu menyiapkan uang tambahan untuk parkir.
Di tengah ramainya kawasan kuliner Kota Bandung, Bumi Panyileukan seolah menawarkan kemerdekaan dalam bentuk yang sederhana. Semua itu berjalan karena satu hal yang terus dipertahankan warga dan pedagang, saling menjaga kenyamanan.