NADIKABAR.COM — Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mengapresiasi kemajuan Indonesia menurunkan angka kelaparan menjelang Hari Pangan Sedunia pada 16 Oktober 2026, sekaligus menyerukan perluasan inovasi untuk meningkatkan akses pangan bergizi.

FAO menyebut laporan The State of Food Security and Nutrition in the World (SOFI) 2026 mencatat prevalensi kelaparan Indonesia turun dari 18,4 persen pada periode 2004–2006 menjadi 6,3 persen pada 2023–2025.

"Indonesia telah memiliki sistem irigasi, infrastruktur logistik, dan inovasi yang baik, yang telah mendukung kemajuan negara ini dalam mengatasi kelaparan," kata Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste Rajendra Aryal dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Kamis.

FAO menilai investasi berkelanjutan pemerintah dalam peningkatan produktivitas pertanian, pembangunan irigasi, penguatan logistik, distribusi pangan, serta pemenuhan gizi turut berkontribusi terhadap penurunan kelaparan tersebut.

Menurut Rajendra, kemajuan itu perlu diperluas agar masyarakat lebih mudah memperoleh pangan bergizi, termasuk buah-buahan, sayuran, dan pangan hewani.

"Agar pangan sehat dapat diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia, keberhasilan ini perlu diperluas hingga mencakup buah-buahan, sayuran, dan berbagai jenis pangan kaya kandungan gizi lainnya," ujarnya.

FAO menekankan investasi pangan harus menjangkau wilayah yang masih kurang terlayani, produsen pangan skala kecil, serta masyarakat berpendapatan rendah agar manfaat peningkatan produksi dan distribusi pangan dapat dirasakan lebih merata.

Seruan tersebut sejalan dengan tema Hari Pangan Sedunia 2026, yakni "Berinovasi Hari Ini untuk Memupuk Hari Esok" atau Innovate Today, Nourish Tomorrow.

Menurut FAO, inovasi perlu dikembangkan melalui kerja sama pemerintah, dunia usaha, mitra pembangunan, dan masyarakat agar produktivitas meningkat sekaligus memperluas akses pangan bergizi serta memperkuat ketahanan petani menghadapi perubahan iklim.