Menurut Prof Syahdar, pencatatan dan evaluasi lapangan juga diperlukan untuk memperkuat proses hilirisasi hasil penelitian.
“Kami ingin kelompok memiliki kemampuan untuk mengelola budidaya secara mandiri. Karena itu, yang kami berikan bukan hanya pendampingan terhadap ternaknya, tetapi juga pengetahuan dan keterampilan yang dapat mereka gunakan dalam menjalankan usaha,” ujarnya.
Ia menjelaskan, hal yang menarik dari Kelompok Waliko adalah komposisi anggotanya. Kelompok binaan tersebut beranggotakan lima orang penyandang disabilitas, dengan dua anggota di antaranya memiliki disabilitas fisik.
Keterlibatan mereka menunjukkan bahwa penerapan hasil riset peternakan dapat membuka ruang partisipasi ekonomi yang lebih luas, termasuk bagi kelompok masyarakat yang menghadapi keterbatasan akses terhadap kesempatan usaha.