NADIKABAR.COM β€” Kabut tipis masih menggantung di lereng Gunung Lawu, ketika pucuk-pucuk teh di Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, dipetik satu per satu untuk dibawa menuju rumah produksi teh.

Di tempat itu, aroma khas daun teh yang baru diproses menjadi penanda perjalanan panjang Eko Wuryanto membangun usaha yang kini tidak hanya menghasilkan minuman, tetapi juga membuka ruang penghidupan bagi petani di sekitarnya.

Di antara perkebunan dan aroma teh ini, Eko Wuryanto memilih jalan yang tidak sederhana, ketika memutuskan meninggalkan pekerjaannya sebagai karyawan perusahaan pada 2012 untuk merintis usaha sendiri, setelah melihat potensi teh Kemuning yang belum banyak dikenal wisatawan.

"Waktu pertama buka, keuntungan satu bulan hanya sekitar Rp300 ribu, kira-kira setara dengan gaji saya selama tiga hari ketika masih bekerja di perusahaan," kata pemilik usaha teh ini, mengenang awal perjalanannya.

Keputusan tersebut berawal ketika wisatawan mulai berdatangan ke kawasan kebun Kemuning pada 2010, tetapi belum banyak pilihan bagi mereka untuk membeli teh lokal, sekaligus melihat proses pengolahannya.

Eko kemudian membangun usaha dari modal sekitar Rp8 juta dengan peralatan sederhana yang sebagian dibuat sendiri, meski pada awalnya kapasitas produksi sekitar 50 kilogram per bulan pun belum selalu terserap pasar. Usaha itu semakin berkembangan dengan sentuhan pendampingan dari Bank Indonesia (BI).

Lebih dari satu dekade berlalu, usaha yang dahulu hanya bermitra dengan lima, hingga enam petani itu, kini mampu mengolah sekitar 5-6 ton teh per bulan, dengan melibatkan 26 petani dari lahan sekitar lima hektare.

Perubahan tersebut tidak hanya terlihat dari kapasitas produksi, tetapi juga dari nilai ekonomi yang berputar di sekitar kebun karena Eko memilih membeli pucuk teh segar dari petani setempat dengan harga minimal Rp5.000 per kilogram, lebih tinggi dibandingkan kisaran harga yang menurutnya diterima petani di sejumlah sentra teh lain.

β€œHarapan saya bagaimana petani ikut merasakan manfaatnya, karena keuntungan bukan hanya untuk saya sendiri, tetapi bagaimana 26 petani ini benar-benar semangat dan berdaya,” ujarnya.

Di rumah produksi yang menjadi pusat aktivitas Eko dan para petani, pucuk teh yang baru dipetik melewati proses pelayuan, penggulungan dan pengeringan sebelum disimpan sebagai bahan baku untuk kemudian dikembangkan menjadi berbagai produk.

Eko tidak sekadar mempertahankan teh dalam bentuk konvensional, tetapi mencoba membaca selera konsumen dengan menghadirkan teh hijau, hitam, putih, melati, jahe, serai, buah, rempah, hingga matcha yang mulai diminati sejumlah kafe dan restoran di Jakarta.

Ada pula karakter khas yang menjadi identitas produk teh tersebut berupa teh rako, yakni teh dengan sensasi rasa menyerupai kopi yang menurut Eko muncul secara alami dari karakter tanah Kemuning yang dahulu juga menjadi tempat tumbuh tanaman kopi.

Sementara itu, teh putih dibuat dari pucuk daun yang belum mekar dan diproses dengan pengeringan bersuhu rendah, sehingga karakter bahan bakunya tetap dipertahankan, menjadi salah satu produk yang menunjukkan upaya Eko meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.

Dari inovasi tersebut, omzet usaha yang pada 2023 berada di kisaran Rp85 juta per bulan, meningkat menjadi sekitar Rp250-300 juta per bulan pada 2026, sedangkan jumlah reseller bertambah dari 235 menjadi sekitar 620.

Pertumbuhan pasar itu, bahkan membawa pesanan dalam jumlah besar, setelah Eko mengikuti pameran di Surabaya dan bertemu pembeli dari Boyolali yang kini memesan sekitar 3.000 produk per hari, dengan nilai transaksi sekitar Rp6 juta.

Pertemuan tersebut menjadi contoh bagaimana pameran tidak berhenti sebagai ruang promosi, tetapi dapat membuka rantai perdagangan baru bagi UMKM daerah ketika produk dipertemukan dengan pembeli yang membutuhkan pasokan secara berkelanjutan.

Usaha teh yang dipelopori Eko bersama para petani di Kemuning itu, kini menjadi salah satu UMKM binaan Bank Indonesia (BI) yang mendapat dukungan melalui pendampingan produksi, penguatan peralatan, promosi dan fasilitasi pertemuan dengan calon pembeli melalui berbagai kegiatan pameran.

Bagi Eko, dukungan tersebut membantu menjawab persoalan yang selama ini menjadi salah satu keterbatasan usaha, yakni kemampuan meningkatkan kapasitas produksi, sekaligus memperluas akses pasar ketika permintaan mulai tumbuh.

Ia mengaku salah satu dampak yang paling terasa setelah mengikuti kegiatan yang difasilitasi BI adalah terbukanya pertemuan dengan pembeli dalam skala lebih besar, termasuk pesanan yang kini mencapai ribuan produk setiap hari.