NADIKABAR.COM — Korea Utara (Korut) mengecam tuduhan FBI yang menyebut Pyongyang berada di balik peretasan dan pencurian senilai $6 miliar dari platform mata uang kripto Binance. Saudara perempuan Pemimpin Tertinggi Korut Kim Jong Un menyebut tuduhan tersebut sebagai provokasi politik yang serius.
Dilansir AFP, Selasa (3/11/2026), dalam pernyataan yang dirilis oleh kantor berita negara KCNA, Kim Yo Jong menyatakan bahwa klaim FBI hanyalah retorika tidak masuk akal dan bukan hal baru, mengingat sebelumnya Amerika Serikat (AS) juga menuduh Korut berada di balik peretasan besar terhadap Bybit tahun lalu.
"Merupakan provokasi politik yang serius terhadap DPRK ketika AS menyesatkan opini publik internasional seolah-olah semua kejahatan siber di berbagai belahan dunia adalah perbuatan kami," ujar Kim, menggunakan akronim untuk nama resmi Korea Utara.
Pada Sabtu (31/10) lalu, FBI menyatakan bahwa kelompok peretas yang berafiliasi dengan Korea Utara, yang disebut TraderTraitor, berada di balik peretasan tersebut. TraderTraitor merupakan kelompok yang sama yang dituduh bertanggung jawab atas pencurian senilai $1,5 miliar dari platform Bybit pada Februari tahun lalu, insiden yang sebelumnya tercatat sebagai pencurian kripto terbesar sebelum peretasan Binance terjadi.
"Ini adalah upaya jahat untuk merusak citra internasional DPRK serta merongrong martabat dan kehormatan nasionalnya, sekaligus merupakan pelanggaran serius lainnya terhadap kedaulatan DPRK," kata Kim.
"Sudah menjadi kebijakan konsisten pemerintah DPRK untuk menentang dengan tegas segala bentuk tindakan jahat di ruang siber," tambahnya.
Binance merupakan bursa kripto terbesar di dunia berdasarkan volume perdagangan harian. Berita mengenai serangan peretasan ini menyebabkan harga sebagian besar mata uang kripto utama anjlok tajam pada Jumat (30/10).
Setelah FBI merilis pernyataannya, Presiden AS Donald Trump menyatakan keraguan mengenai keterlibatan Korea Utara dalam peretasan tersebut.
"Saya tidak khawatir. Kami sedang mendalaminya. Kami belum tahu apakah ini ulah Korea Utara atau bukan," ujar Trump kepada para wartawan di kediamannya di Florida.
Sejak kembali menjabat, Trump telah berulang kali melayangkan tawaran pendekatan kepada Korea Utara, negara yang memiliki senjata nuklir, dan menyatakan keterbukaannya untuk bertemu dengan pemimpin tertinggi Kim Jong Un tahun ini.
Tawaran-tawaran tersebut hingga kini hanya ditanggapi dengan keheningan oleh Pyongyang. Dalam pernyataannya, Kim Yo Jong mengatakan bahwa tuduhan-tuduhan baru tersebut sekali lagi mengonfirmasi sikap bermusuhan Washington terhadap Korut.
"Kami memiliki sejumlah hal untuk dipertimbangkan kembali dari berbagai aspek terkait sikap bermusuhan AS yang sangat tidak menyenangkan itu," tambahnya.