Dari Indonesia, Venus dapat dicari di arah barat setelah Matahari terbenam. Posisi Venus relatif rendah di atas horizon sehingga lokasi dengan pandangan cakrawala yang terbuka akan memberikan peluang pengamatan lebih baik.

September hingga Oktober 2026 menjadi periode terjadinya kulminasi utama atau Hari Tanpa Bayangan di sejumlah wilayah Indonesia. Fenomena ini terjadi ketika Matahari berada tepat di atas suatu lokasi sehingga bayangan benda tegak menjadi sangat pendek atau hampir tidak terlihat.

BMKG mencatat, misalnya, kulminasi utama kedua di Pontianak terjadi pada 23 September 2026 pukul 11.35 WIB. Waktu fenomena berbeda-beda di setiap daerah karena dipengaruhi posisi geografis.

Untuk Jawa Timur, Hari Tanpa Bayangan baru berlangsung pada Oktober 2026, sehingga fenomena ini tidak menjadi peristiwa September bagi wilayah Jatim. Secara nasional, periode kedua kulminasi utama 2026 berlangsung mulai 7 September 2026 hingga 21 Oktober 2026.

Ekuinoks September terjadi pada 23 September 2026 pukul sekitar 07.06 WIB untuk waktu Indonesia. Pada saat ekuinoks, Matahari berada tepat di atas ekuator Bumi sehingga panjang siang dan malam di berbagai wilayah Bumi relatif seimbang.

Peristiwa ini terjadi secara global. Di belahan Bumi utara, ekuinoks September menandai awal musim gugur, sedangkan di belahan Bumi selatan menjadi penanda awal musim semi. Indonesia yang berada di sekitar khatulistiwa mengalami perubahan durasi siang dan malam yang relatif kecil dibandingkan wilayah lintang tinggi.

Pada 26 September 2026, Bulan Purnama akan menjadi salah satu objek yang menarik diamati. NASA menyebut Harvest Moon tersebut akan terbit berdekatan dengan Saturnus, sementara Neptunus berada di kawasan langit yang sama.

Saturnus dapat dilihat dengan mata telanjang, sedangkan Neptunus jauh lebih redup dan membutuhkan bantuan binokular atau teleskop. Fenomena ini dapat diamati dari wilayah yang mengalami malam hari, termasuk Indonesia, dengan waktu pengamatan disesuaikan dengan posisi objek di langit setempat.

Hujan meteor Daytime Sextantid mencapai puncak aktivitas sekitar 27 September 2026. Berbeda dari kebanyakan hujan meteor yang diamati pada malam hari, fenomena ini memiliki radiant yang berada di langit pada siang hari.

Karena itu, Daytime Sextantid tidak mudah diamati langsung dengan mata telanjang. Fenomena ini lebih banyak menjadi objek pengamatan menggunakan metode atau instrumen astronomi tertentu, sehingga tidak termasuk hujan meteor yang mudah disaksikan masyarakat umum.