NADIKABAR.COM — Jenama otomotif yang fokus di segmen komersial, Forland, memiliki target khusus di fase awal kehadirannya di Indonesia, yakni mengincar perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit yang membutuhkan kendaraan niaga cukup besar.
Presiden Direktur PT Tangguh Utama Sejahtera (TUS) selaku agen pemegang merek Forland Indonesia, Jin Hong Lin, mengatakan strategi tersebut dipilih karena ekosistem kendaraan niaga listrik di Tanah Air belum berkembang secara matang.
"Strategi saya adalah fokus ke big fleet, para pelanggan yang membutuhkan kendaraan dalam jumlah banyak," kata Jin di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, perusahaan mengidentifikasi perkebunan kelapa sawit sebagai salah satu sektor yang memiliki kebutuhan operasional besar dan berpotensi menggunakan kendaraan niaga listrik.
Jin menambahkan, luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencapai sekitar 14 juta hektare. Selain itu, produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) nasional mencapai sekitar 45 juta ton.
Besarnya skala industri tersebut, menjadi pertimbangan Forland untuk menjadikan sektor perkebunan sawit sebagai tahap awal pengembangan pasar. Kendaraan yang digunakan di kawasan perkebunan juga menghadapi kondisi jalan yang tidak selalu baik.
Melalui demonstrasi kendaraan di sektor tersebut, perusahaan ingin menunjukkan kemampuan unit dalam menghadapi kebutuhan operasional di lingkungan perkebunan.
"Kita melihat ini suatu segmen yang benar-benar bisa memberi manfaat kepada konsumen. Jadi, kami fokus ke sektor tertentu terlebih dahulu, bukan langsung menjual unit kita ke supermarket atau pabrik permen," ujar Jin.
Selain perkebunan sawit, Forland juga membidik instansi pemerintah sebagai kelompok pelanggan potensial.
Jin juga menyinggung arah kebijakan pemerintah Indonesia, yang mendorong penggunaan kendaraan listrik menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan sasaran pasar.
Dengan demikian, dua segmen yang menjadi prioritas awal perusahaan adalah pengelola armada besar di sektor perkebunan kelapa sawit dan instansi pemerintah.
Jin mengatakan strategi tersebut merupakan tahap awal sebelum perusahaan memperluas jangkauan pasar ke sektor usaha lainnya.
Pendekatan bertahap itu, dinilai penting agar pengembangan kendaraan niaga listrik dapat disesuaikan dengan kebutuhan operasional pelanggan serta kesiapan ekosistem pendukung di Indonesia.