"Saya tidak punya grip. Hari ini, pada beberapa lap pertama, saya berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikannya. Namun, setelah lap kelima, saya sudah tidak punya ban belakang lagi. Bahkan pada lap terakhir, saya tidak bisa menyentuhkan lutut ke aspal di tikungan-tikungan kanan," katanya.

Situasi tersebut terasa semakin aneh bagi Bagnaia karena selama ini ia dikenal mampu mengelola pemakaian ban dengan baik. "Aneh rasanya: selama ini saya selalu bagus dalam mengelola ban, dan sekarang sepertinya saya tidak mampu lagi melakukannya. Jadi, saya harus belajar lagi dari awal," lanjutnya.

Bagnaia mengakui sempat memiliki perasaan positif pada awal akhir pekan balapan di Sepang. Namun, ia merasa telah meremehkan persoalan yang dialami motornya. "Saya meremehkan masalah pada motor saya. Saya menghitung menit sampai musim ini berakhir," ucapnya.

Pebalap asal Italia itu juga mengaku kecewa dengan catatan waktunya. Ia menyelesaikan lap terakhir dengan waktu 2 menit 5,1 detik, yang menurutnya sangat jauh dari kemampuan yang seharusnya bisa ditunjukkan di Sirkuit Sepang.

"Saya merasa kurang lebih seperti yang saya perkirakan. Kemarin saya beruntung karena hujan mulai turun. Namun, hari ini, sejak awal balapan, saya menyadari bahwa batas kemampuan saya berkaitan dengan grip. Saya menyelesaikan lap terakhir dalam waktu 2 menit 5,1 detik. Bagi saya, itu luar biasa buruk jika mempertimbangkan apa yang saya tahu bisa saya lakukan di trek ini. Namun, memang begitulah situasinya dan kami harus menerimanya," jelas Bagnaia.