NADIKABAR.COM — Yerusalem/Istanbul (NadiKabar) - Gadi Eisenkot, pemimpin partai oposisi Yashar, akan mendapat peluang pertama untuk membentuk pemerintahan baru Israel usai pemilihan umum, kata juru bicara otoritas Israel.

Dalam pernyataannya, Sabtu, pemimpin negara Israel Isaac Herzog sudah menyampaikan maksudnya menugaskan Eisenkot membentuk pemerintahan baru di Israel.

Herzog juga telah mengundang Eisenkot ke kediaman resmi kenegaraan, di mana Herzog akan secara resmi memberikan mandat pembentukan pemerintahan baru pada Minggu pukul 17:00 waktu setempat (22:00 WIB).

Sebelumnya, fraksi parlemen yang mewakili 67 anggota Knesset menyarankan agar Herzog memberi mandat kepada Eisenkot untuk membentuk pemerintahan baru.

Sementara, 46 anggota legislatif menyarankan penunjukan petahana Benjamin Netanyahu, dan tujuh anggota legislatif dari satu fraksi yang sama menolak memberi saran.

Juru bicara Herzog menyebut sang pemimpin telah menggelar dialog mendalam dengan sejumlah tokoh yang mewakili berbagai spektrum politik, termasuk Netanyahu dan Eisenkot sendiri.

Begitu Herzog resmi memberi mandat pembentukan pemerintahan baru, anggota legislatif mendapat kesempatan 28 hari untuk membentuk pemerintahan. Apabila diperlukan, perpanjangan hingga 14 hari untuk melanjutkan perundingan dapat diberikan.

Setelah menyelesaikan konsultasi dengan fraksi parlemen pada Kamis (5/11), Herzog berkata masih perlu dialog lebih lanjut sebelum dapat membuat keputusan.

Saat itu, ia menyebut saran yang diberikan masih belum cukup untuk membantunya menentukan sosok yang tepat membentuk pemerintahan, mengingat adanya perselisihan dan tuntutan posisi kabinet yang berbeda-beda antara fraksi.

Adapun hasil pemilihan legislatif Israel pada 27 Oktober lalu menunjukkan tidak ada fraksi yang berhasil meraih sekurangnya 61 suara untuk membentuk pemerintahan mayoritas di Knesset yang beranggotakan 120 orang.

Partai Likud pimpinan Netanyahu mendapat 27 kursi, sementara Partai Yashar pimpinan Eisenkot memenangi 21 kursi. Jumlah kursi sisanya dikuasai sejumlah partai lain.

Hasil akhir pemilu menunjukkan blok Netanyahu mendapat 53 kursi, dan blok oposisi mendapat 48 kursi. Dua partai Arab, yaitu "Joint List" dan Ra'am, merebut 19 kursi sisanya.

Partai oposisi yang menguasai 67 kursi kemudian mengusulkan Eisenkot untuk diberi mandat pembentukan pemerintahan.

Akan tetapi, sejumlah partai di koalisi Eisenkot menolak membentuk pemerintahan yang mencakup partai-partai Arab. Kondisi ini memaksa Eisenkot mencari cara lain mengamankan jumlah kursi mayoritas atau membentuk pemerintahan minoritas dengan dukungan eksternal.

Adapun Partai Taurat Yudaisme Bersatu (UTJ) yang berasaskan ultra-Ortodoks dan berasal dari koalisi Netanyahu menolak mengusulkan calon kepala pemerintahan karena berselisih dalam hal pengecualian kaum Yahudi ultra-Ortodoks dari wajib militer.

Eisenkot kini perlu menjadi jembatan antara partai-partai yang menolak Netanyahu, terlebih mengingat Partai Likud pimpinan Netanyahu tetap merupakan partai terbesar di parlemen Israel.

Jika Eisenkot gagal membentuk pemerintahan dalam waktu 28 hari ditambah perpanjangan waktu yang diberikan, Israel akan menghadapi babak dialog politik yang baru.

Selama proses pembentukan pemerintahan baru berlangsung, Netanyahu masih akan menjabat sebagai kepala pemerintahan dengan kapasitas sementara.

Netanyahu menjadi salah satu pemimpin pemerintahan terlama Israel. Ia pertama kali menjabat pada periode 1996--1999, kemudian periode 2009--2021, dan menjabat lagi sejak Desember 2022.

Padahal, sejak 2020 Netanyahu menghadapi dakwaan suap, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan dalam tiga kasus korupsi berbeda. Ia terus membantah tuduhan tersebut.

Ia juga menghadapi tuntutan penahanan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) sejak November 2024 atas dakwaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Jalur Gaza.

Penerjemah: Nabil Ihsan