"Tapi kami tetap berjuang sampai akhir, berusaha cari jalan gimana caranya bisa dapetin poin," lanjutnya.

Senada dengan sang partner, Novela mengakui betapa beratnya laga yang menuntut stamina dan ketahanan mental luar biasa tersebut.

Pertukaran pukulan hingga puluhan kali dalam satu poin menuntut dedikasi fisik dan pikiran yang tak main-main. Belum lagi gemuruh publik tuan rumah yang kian membakar semangat lawan."Ya mereka main di kandang sendiri jadi ngerasa lebih bebas," ungkap Novela.

Setelah laga ini, keduanya mengalihkan konsentrasi pada laga berikutnya. Bagi Novela dan Beatrice, perjuangan belum selesai. Keduanya menegakkan kepala untuk menatap laga perebutan medali perunggu besok saat melawan wakil Filipina, Danna Abad/Josea Malazarte.