NADIKABAR.COM — PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk atau GIAA dinilai mampu menjaga ketahanan bisnis di tengah beban avtur global setelah perseroan mencatat pendapatan tumbuh 16 persen dan rugi bersih menyusut pada semester I 2026.
Berdasarkan data laporan keuangan yang dipublikasikan di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip di Jakarta, Kamis, Garuda Indonesia tercatat membukukan pendapatan 1,80 miliar dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang Januari-Juni 2026.
Angka itu naik 16,0 persen dari 1,55 miliar dolar AS pada semester I 2025. Rugi bersih perseroan menyusut 23,2 persen menjadi 113,0 juta dolar AS dari 147,1 juta dolar AS.
Kinerja itu tercatat di tengah kenaikan harga bahan bakar yang menekan industri penerbangan global sepanjang semester pertama 2026.
Ketua Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (APJAPI) sekaligus pengamat penerbangan Alvin Lie menyebut periode Agustus hingga November 2026 sebagai masa-masa kritis bagi maskapai.