Kehadiran kedua sistem robotik tersebut memperkuat kemampuan Gatam Institute dalam menangani berbagai kasus ortopedi kompleks. Meski demikian, teknologi robotik berperan sebagai alat bantu bagi dokter, sedangkan keputusan klinis dan pelaksanaan tindakan tetap berada di tangan tenaga medis yang kompeten.

Untuk menunjang tindakan bedah, Gatam Institute juga dilengkapi berbagai perangkat pencitraan dan instrumen operasi modern, antara lain O-arm, C-arm 3D, ProAxis Table, RIWOspine Endoscope, PlasmaBlade, serta Ultrasonic Bone Scalpel.

"Kombinasi perangkat tersebut memungkinkan dokter memperoleh dukungan visualisasi dan instrumen yang dibutuhkan selama tindakan operasi, termasuk pada prosedur tulang belakang yang memerlukan ketelitian tinggi," ujarnya.

Selain teknologi, kekuatan Gatam Institute juga ditopang sumber daya manusia yang memiliki kompetensi khusus di berbagai bidang ortopedi. Saat ini, Gatam Institute memiliki 47 dokter spesialis dan subspesialis ortopedi yang mencakup delapan bidang keahlian, yakni tulang belakang, rekonstruksi dewasa yang meliputi sendi lutut dan panggul, cedera olahraga, ortopedi anak, kanker tulang, tangan dan bedah mikro, bahu dan siku, serta kaki dan pergelangan kaki.

Keberadaan dokter dengan beragam subspesialisasi tersebut memungkinkan pasien memperoleh penanganan berdasarkan jenis penyakit maupun cedera yang dialami.

Misalnya, pasien dengan gangguan tulang belakang dapat memperoleh evaluasi dan penanganan dari dokter yang memiliki keahlian khusus pada bidang tersebut. Begitu pula pasien dengan cedera olahraga, kelainan tulang pada anak, gangguan sendi panggul dan lutut, hingga kasus tumor atau kanker tulang.

"Pendekatan multidisiplin menjadi penting karena permasalahan sistem gerak tidak selalu dapat diselesaikan hanya melalui tindakan operasi. Dalam sejumlah kasus, pasien membutuhkan pemeriksaan lanjutan, terapi konservatif, pengelolaan nyeri, serta program pemulihan yang terarah," katanya.