Aksi tersebut baru terbongkar setelah salah satu pengurus OSIS berani angkat bicara. Keberanian tersebut mendorong korban-korban lainnya untuk ikut bersuara hingga guru Bimbingan Konseling (BK) mengumpulkan para siswi yang menjadi korban.
"Jadi ada yang berani speak up, karena ada yang berani jadi semua ikut ngomong, tadi yang di guru BK yang laporan ada 15-20 orang, karena ada kericuhan jadi terhenti, kayaknya hampir seluruh cewek satu sekolah ini jadi korban," katanya.
Kepala SMAN 1 Pamanukan, Edi Kanedi, membenarkan adanya aksi unjuk rasa yang melibatkan seluruh siswa yang berjumlah 1.445 orang tersebut. Ia menceritakan bahwa awalnya, hanya satu orang murid yang melapor, namun setelah ditelusuri, jumlah korban terus bertambah.
"Awalnya ada satu murid yang melaporkan. Setelah diselidiki, ternyata korbannya banyak. Data sementara yang tercatat di BK ada sekitar 11 hingga 15 orang siswi," kata Edi.
Orang tua siswa pun mengaku terkejut dan tidak menyangka insiden tersebut terjadi di lingkungan sekolah. Mariam, salah satu orang tua murid, mengaku langsung mendatangi sekolah setelah dihubungi oleh anaknya.