NADIKABAR.COM — Karnaval untuk memeriahkan sunatan massal dan Maulid Nabi di Simbang Kulon, Pekalongan, menuai sorotan karena disebut ada unsur satanik. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah (Jateng) menilai penampilan semacam itu tidak pantas. MUI juga menyinggung soal dugaan penistaan agama.

"Kalau sampai ada kecaman itu berarti memang itu tidak pantas dilakukan," Ketua Dewan Pertimbangan MUI Jateng, Ahmad Darodji saat dihubungi awak media, Senin (14/8/2026).

Darodji menyebut acara semacam itu tidak pantas ditampilkan di publik dalam nuansa Mauild Nabi Muhammad SAW. Ia juga menduga adanya unsur kesengajaan untuk mencoreng acara Maulid Nabi.

"Apalagi itu dikaitkan Maulid Nabi sehingga mungkin maksudnya baik, tapi jadinya jadi contoh yang tidak baik atau bahkan jangan-jangan ada di situ sengaja supaya agar orang itu memandang Maulid Nabi suatu yang tidak perlu dilakukan mungkin begitu," ujar Darodji.

Darodji juga menyinggung adanya kemungkinan unsur penistaan agama dalam persoalan tersebut. Kendati demikian, ia berharap agar kejadian ini tidak sampai ke arah dugaan itu.

"Kalau sampai ada penistaan agama, itu tindak pidana itu. Mudah-mudahan tidak terjadi. Tetapi bisa jadi orang yang kemudian mengarah ke sana, 'ini penistaan', ini Nabi kok dicontohkannya begini. Itu bisa terjadi, mudah-mudahan tidak terjadi," kata Darodji.

Darodji juga menyebut penampilan semacam itu dapat menimbulkan perpecahan. Menurut dia, acara Maulid Nabi harus memberikan kesan yang baik bagi masyarakat.

"Jadi itu kan bisa orang mungkin timbul perpecahan, jangan-jangan maksudnya justru mau merendahkan Nabi dengan contoh yang disampaikan itu. Padahal kita kalau peringatan Nabi itu justru disampaikan beliau contoh yang terbaik. Jadi jangan justru terbalik, kesan orang jadi jelek, itu salah," ucap Darodji.