Daun teh yang digunakan berasal dari petikan pertama pada musim semi ketika daunnya masih muda dan lembut. Sebelum dipanen, daun teh tersebut dibiarkan tumbuh dalam kondisi teduh selama lebih dari 20 hari.

Proses tersebut membuat daun menerima lebih sedikit paparan sinar matahari sehingga pertumbuhannya berlangsung lebih perlahan. Hasilnya, warna daun menjadi lebih pekat dan menghasilkan cita rasa yang lebih kaya sekaligus lembut.

Setelah dipetik, daun teh kemudian digiling hingga menjadi bubuk yang sangat halus dengan tingkat kehalusan mencapai 1.000 mesh. Proses ini menghasilkan tekstur matcha yang lembut tanpa sensasi kasar atau menggumpal ketika diminum, sehingga nayaman di tenggorokan.

Salah satu menu yang menjadi unggulan dalam seri ini adalah Lime Cheese Matcha Latte. Minuman tersebut tersedia dalam waktu terbatas dan memadukan matcha lembut dengan aroma segar jeruk nipis serta cheese yang creamy.

Perpaduan tersebut menghasilkan rasa yang kaya tetapi tetap memberikan sensasi segar. Bagi yang ingin rasa lebih creamy, tersedia pilihan Cheese Cap berupa lapisan cheese lembut di bagian atas minuman.

Menurut Adinda Yozari, General Manager CHAGEE Indonesia, konsep minuman ini tetap menempatkan matcha sebagai karakter utama. Sentuhan lime dan cheese hanya menjadi pelengkap untuk memberikan pengalaman baru bagi pencinta matcha.