NADIKABAR.COM — Gempa M 7,7 tak hanya mengguncang Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), tetapi juga menghantam aktivitas nelayan. Sebanyak 104 perahu dan alat tangkap milik nelayan rusak, dengan nilai kerusakan sementara ditaksasi mencapai Rp 800 juta.

Kerusakan itu terjadi setelah perahu dan alat tangkap nelayan dihantam gelombang saat gempa pada Sabtu (15/8/2026). Ratusan nelayan terdampak tersebar di Desa Nggolonio, Nangadhero, dan Marapokot, Kecamatan Aesesa.

"Dampak sangat besar dirasakan oleh nelayan terutama sarana dan prasarana, seperti perahu motor, mesin, dan alat tangkap. Itu banyak kerusakan yang dialami oleh nelayan," ujar Kepala DKP Nagekeo Oliva Monika Mogi saat ditemui di kantornya, Senin (7/9/2026).

Oliva menjelaskan pihaknya langsung menerjunkan sejumlah staf untuk mendata daerah pesisir yang terdampak setelah kejadian guncangan dasyat tersebut. Hasilnya, terdapat 104 nelayan yang mengalami kerusakan alat penangkap.

Menurut Oliva, tiga desa di Kecamatan Aesesa, yakni Nggolonio, Nangadhero, dan Marapokot, mengalami dampak paling parah. Nelayan di Pantai Selatan, yakni Kelurahan Mauponggo, Desa Kotagana, dan Desa Keliwatulewa di Kecamatan Mauponggo, juga terdampak.

"Semua ini susah didata dan dilaporkan ke Bupati Nagekeo dan BNPB," jelas Oliva.

Oliva mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan BPBD Nagekeo agar para nelayan bisa segera dibantu sehingga dapat kembali beraktivitas melaut.

Namun, usulan pengadaan alat tangkap yang diajukan tidak diakomodir masuk dalam kategori tanggap darurat. Padahal, berdasarkan hasil perhitungan kerusakan sementara, ditaksasi mencapai Rp 800 juta.